KEBIASAAN hidup sehat sangat penting. Bisa dimulai dengan memerhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak. Salah satunya: mengurangi asupan gula tambahan untuk si kecil!
Selama ini orangtua kurang menyadari jika sebenarnya anaknya sudah mengonsumsi gula berlebih yang memang terdapat pada makanan dan minuman yang dikonsumsi. Padahal WHO telah merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak.
Artinya, anak usia satu sampai tiga tahun tidak disarankan mengonsumsi lebih dari 25 gram gula tambahan/hari (setara lima sendok teh) dan untuk anak usia empat sampai enam tahun tidak melebihi 38 gram gula tambahan/hari (setara delapan sendok teh). Catatan: satu sendok teh gula berkisar lima gram.
Jenis-jenis gula
Gula merupakan zat gizi yang berfungsi menghasilkan sumber energi. Jenis-jenis gula adalah gula pasir, gula merah, gula biang, dan pemanis buatan. Gula yang terdapat dalam tiap gram produk olahan berkisar 4 Kkal.
Jenis gula dalam makanan yaitu gula alamiah seperti sukrosa, fruktosa, dan laktosa. Yang kedua adalah gula tambahan (added sugar/free sugar) yaitu jenis gula yang ditambahkan dalam proses pembuatan makanan contohnya gula pasir dalam sirup, jus buah, dan tepung susu.
Menurut WHO, free sugar dapat menyeimbangkan energi positif. Dengan membatasi asupan free sugar akan menurunkan asupan energi dan menurunkan berat badan. Minuman yang tinggi kandungan free sugar akan meningkatkan asupan energi karena mengurangi kontrol nafsu makan. Sebaiknya mengkonsumsi free sugar 10 persen dari total energi yang dikonsumsi setiap hari.
Penyumbang gula terbanyak: susu
Menurut Dr. dr. Rini Sekartini, SpA (K), berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya terhadap 100 anak berusia 3-6 tahun, asupan gula harian (sukrosa, glukosa, fruktosa, dan laktosa) yang biasa diasup memberikan kontribusi lebih dari 10 persen terhadap total kalori.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa asupan gula terbanyak dikonsumsi anak-anak tersebut adalah sukrosa 49,45 gram – kebanyakan berasal dari konsumsi susu. Artinya, prosentasi ini sudah melebihi batas ambang yang direkomendasikan WHO.
Umumnya orangtua akan memberikan susu formula lanjutan pada anak-anak usia satu sampai tiga tahun yang sudah berhenti minum ASI. Nah, anak-anak sangat menyenangi rasa manis yang dipenuhi lewat asupan susu yang diminum secara rutin setiap hari.
Untuk tetap menjaga kesehatan mereka, kandungan susu yang mengandung pemanis tambahan pun perlu dibatasi asupannya. Contoh, jika anak mengonsumsi tiga gelas susu per hari, berarti ia telah mengonsumsi hingga 12 sendok teh gula tambahan setiap hari.
Oleh sebab itu, sebelum memilih susu untuk si kecil, sebaiknya cermat dan cerdaslah membaca label kandungan gula dalam kemasan.
Baca komposisi (ingredients) dan informasi nilai gizi yang tercantum. Cermati jumlah total karbohidrat dan total gula tambahan dalam produk susu tersebut. Kandungan dalam susu sebaiknya tanpa gula tambahan, yang boleh ada hanya LAKTOSA (gula natural yang ada pada susu).
“Orangtua harus mewaspadai asupan gula tambahan pada anak agar tidak berlebihan, bahkan tetap memelajari nilai gizi makanan dan minuman yang mereka anggap sehat sekalipun,” ujar Dokter spesialis tumbuh kembang anak ini.
Anak bisa obesitas
Jika gula tambahan dikonsumsi berlebih setiap hari, dampaknya akan menyebabkan kelebihan energi pada tubuh yang dapat menyebabkan obesitas, karies gigi, dan akan membangun kebiasaan pola makan yang kurang baik saat si kecil beranjak dewasa.
Dokter spesialis anak endokrin FKUI, dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA (K) mengatakan saat dikonsumsi, makanan dan minuman manis akan diserap dengan cepat ke dalam pembuluh darah, sehingga meningkatkan kadar hormon insulin.
Selanjutnya, hormon insulin ini akan bekerja menarik gula dan lemak dari darah untuk disimpan dalam jaringan sebagai persediaan di masa mendatang. Jika tidak seimbang, antara proses penyimpanan dengan pengeluaran energi akan menyebabkan kenaikan berat badan.

